//
you're reading...
Manajemen Pendidikan, Pendidikan, Penelitian Tindakan Kelas, Supervisi Pendidikan, Teknologi Pendidikan

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan (5)

Penelitian Tindakan Kelas

Ada banyak persoalan yang dihadapi guru pad wktu ia berdiri didepan kelas. Berbgai solusi atau cara penyelesaian masalah juga sudah banyak dibahas dalam berbagai telaah penelitian akademik, baik dalam laporan penelitian berbentuk artikel atau pada jenjang skripsi, tesis, bahkan disertasi. Akan tetapi, guru tiodak dapat memahaminya, apalagi mengaplikasikannya dalam pembelajaran sehari-hari, terutama karena berbagai kendala. Mialnya, guru tidak terlalu memahami teori-teori yang dijadikan landasan atau alat analisis penelitian tersebut. Apa yang mereka butuhkan adalh penelitian pendidikan yang membatasi kegunaannya kepada kebutuhan sehari-hari, agar dapat dimanfaatkan guru yang ingin memeperbaiki kinerjanya.

Maka untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru dapat menggunakan penelitian tindakan kelas. Secara singkat PTK dapat didefenisikan sebagai suatu  bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pemnbelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap, sebagai berikut.

Gambar 1. Proses pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan terhadap proses serta hasil tadi, biasanaya muncul permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang, serta diikuti pula dengan refleksi ulang.

Demikianlah tahap-tahap kegiatan ini terus berulang, sampai sesuatu permasalahan dianggap teratasi, untuk kemudian-biasanya- diikuti oleh kemunculan permasalahan lain yang juga harus diperlakukan serupa. Keempat fase dari suatu siklus dalam sebuah PTK biasa digambarkan dengan sebuah spiral PTK seperti ditunjukkan  sebagai berikut.

Gambar 2. Spiral Penelitian Tindakan Kelas (adaptasi dari Hopkins)

Karakteristik

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dicermati karakteristik penelitian tindakan kelas, yang berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan :

1. An Inquiry on Practice from Within

Bahwa kegiatan PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati dalam pelaksanaan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran dikelas atau sebagai jajaran staf pengajar di suatu sekolah. Dengan kata laian, PTK itu bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa PTK bertujuan memperbaiki secara langsung-di sini, sekarang sehingga dinamakan juga penelitian praktis (practical inquiry).

2. A Collaborative Effort Between School Teachers and Teacher Educators

Karena dosen LPTK tidak memiliki akses langsung, maka PTK diselenggarakan secara collaborative dengan guru yang kelasnya dijadikan kancah PTK. Para dosen yang seyogyanya merasakan kebutuhan melakukan PTK, tidak memiliki akses kepada kancah  dalam peran sebagai praktisi. Oleh karena itu, ciri kolaboratif ini harus secara konsisten tertampilkan sebagai kerja sama kesejawatan dalam keseluruhan tahapan PTK, mulai dari identifikasi permasalahan serta diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, sampai dengan pengumpulan serta analisis data dan refleksi mengenai temuan di samping dalam penyusunan laporan.

3. A Reflective Practice, Made Public.

Apabila dicermati lebih jauh,  keterlibatan dosen LPTK dalam PTK bukanlah sebagai ahli pendidikan yang tengah mengemban fungsi sebagai Pembina guru SM, atau sebagai pengembang pendidikan (missionary approarch), melainkan sebagai sejawat, di samping sebagai pendidik calon guru yang seyogyanya memiliki kebutuhan untuk belajar dalam rangka mengakrabi lapangan demi peningkatan mutu kinerjanya sendiri. Perbedaannya dari praksis yang mengandung unsur self-monitoring dan built-in self-initiated improvement mechanism sebagai kebiasaan profesional itu adalah bahwa dalam PTK, pengenalan permasalahn serta upaya yang dirancanag untuk mengatasinya dan efektifitas penerapannya, dilakukan secara lebih eksplisit dan sistematis.

Artinya, keseluruhan proses pemantauan dan perbaikan kinerja dilakukan dengan mengacu kepada kaidah-kaidah penelitian ilmiah seperti telah dikemukakan di atas, meskipun dengan menggunakan paradigma  yang berbeda dari yang lazim digunakan dalam penelitian formal, khususnya paradigma positivistic, yang sangat kental dengan wacana kajian eksperimen. Sedangkan penyebarluasan laporannya dilakukan sebagai bagian dari interaksi serta tilik kesejawatan (peer review) yang kondusif bagi pertumbuhan profesional. Dengan kata lain, PTK adalah suatu reflective practice made public.

 

Tujuan

Suhardjono (2007 : 61) menyebutkan secara rinci tujuan penelitian tindakan kelas antara lain :

  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  2. Membantu guru dan tenaga kependidkan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidkan di dalam dan di luar kelas.
  3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidkan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sutainable).

Berdasarkan asumsi diatas, jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujut berkat diadakannya PTK, ada tujuan penyerta yang juga dapat dicapai sekaligus dalam penelitian itu. Tujuan penyerta itu adalah tertumbuhkannya budaya meneliti dikalangan guru (dan pendidik guru).

 

Manfaat

  1. Sebagai inovasi pendidikan karena para guru semakin diberdayakaan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesionaal secara semakin mandiri.
  2. Dalam pada itu, hanya inovasi yang ”tumbuh dari bawah” seperti inilah yang benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihayati oleh guru dikelas/ di sekolah, bukan yang di instruksikan  dari atas (atau dilaksanakan karena ”ada proyek”). Yang paling berpeluang mengubah sosok kurikulum eksperiensial* kearah yang dikehendaki.
  3. Menjadikan guru lebih mandiri dengan ditopang oleh rasa percaya diri sehingga cenderung ”lebih berani” mengambil resiko dengan mencobakan hal-hal yang baru yang patut diduganya membawa perbaikan. Hal tersebut tumbuh apabila guru memiliki semakin banyak pengetahuan yang dibangunnya sendiri, memiliki teori yang dikembengkannya berdasarkan pengalaman.

 

Kelebihan/ Kekurangan

Kelebihan

  1. Membuka peluang bagi dilakukannya intervensi pada guru yang berbuah pada program pengembangan staf, intervensi pada materi akan tampil sebagai pengembangan kurikulum dan/ atau perangkat lunak pembelajaran, sedangkan intervensi terhadap siswa tanpa ada perubahan dari perilaku guru dan/ atau materi pembelajaran, akan tampil sebagai pengelolaaan pembelajaran yang telah dirutinkan.
  2. Penelitian seperti inilah yang benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihayati oleh guru dikelas/ di sekolah, yang paling berpeluang mengubah sosok kurikulum eksperiensial kearah yang dikehendaki.
  3. Generalisasi tidak menjadi tujuan utama dalam penelitian tindakan kelas.
  4. PTK secara tidak langsung bermuara pada peningkatan peningkatan pengembangan staf/ guru itu sendiri.
  5. Penelitian tumbuh dari guru sendiri, yang sadar akan kebutuhannya dalam memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya.
  6. PTK secara tidak langsung  dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dikelas hingga peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan.
  7. Metode pengumpulan data tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga mengganggu proses pembelajaran.

 

Kekurangan

  1. Apabila pusat perhatian dan/ atau porsi terbesar – dalam arti biaya dan waktu – digunakan untuk peningkatan kemampuan guru, maka sosok kegiatan tidak lagi tertekan pada pada proses pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai objek layanan, dan sebagai pewaris langsung (direct beneficiary).
  2. Kekurangtepatan persepsi bagi sejawat dosen LPTK yang menampilkan pendekatan ”misionaris” (missionary approach), atau lebih jelasnya lagi mereka menempatkan diri lebih sebagai pembina guru.
  3. Mis-persepsi juga terjadi pada penerapan pendekatan penelitian formal, dimana guru dilatih suatu trick, kemudian diamati kinerja guru tersebut oleh dosen, sehingga sosok kegiatanm penelitian berubah secara drastis menjadi penelitian formal.
  4. Perlu adanya pembekalan/ pementapan lebih lanjut bagi guru/ pihak sekolah dalam mengimplementasikan PTK, agar tidak terjadi mis-persepsi antara pengembangan staf dan PTK itu sendiri.

About forumsejawat

http://id-id.facebook.com/baitur.r.isman

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: