//
you're reading...
Bimbingan dan Konseling

Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya Bagi Pendidikan

A. PENGERTIAN DAN BENTUK-BENTUK EMOSI

Pada hakekatnya, setiap orang mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari sampai waktu tidur malam hari. Bermacam-macam pengalaman menimbulkan macam-macam emosi pula.

Menurut William James (dalam Wedge,1995) emosi adalah “kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya”.

Sementara Hathersal (1985), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah, dan tubuh. Misalnya seorang remaja yang sedang marah memperlihatkan muka merah, wajah seram, dan postur tubuh memegang, bertingkah laku menendang atau menyerang, serta jantung cepat berdenyut.

Sedangkan Keleingina and Keleingina (1981), berpendapat bahwa emosi seringkali berhubungan dengan tujuan tingkah laku. Emosi sering disamakan dengan istilah perasaan (feeling) dan ekspresi tingkah laku, misalnya takut, sedih dan jijik, senyum, dan  melotot. Juga sering dihubungkan dengan respon-respon fisiologis seperti sakit kepala, berkeringat dingin dan lain-lain.

Menurut Daniel Goleman (1995), sesungguhnya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata dari defenisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.

Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu serta setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Dan ini cocok sekali dengan dengan perkembangan pada masa remaja yang sedang mengalami berbagai perubahan  fisik pada dirinya. Yang menimbulkan reaksi emosi yang lebih tinggi terutama jika orangtua , guru dan teman sebaya tidak memberikan respon positif dengan segala perubahan yang dialami.

Banyak penelitian membuktikan bahwa salah satu penyebab remaja menjadi nakal adalah karena mengalami gangguan emosi. Gangguan emosi menimbulkan rasa tidak puas terhadap kehidupan sehari-hari. Selanjutnya dapat timbul kebencian dan kecemburuan  terhadap orang-orang yang dilihatnya lebih beruntung dan bahagia.

Emosi tidak selalu jelek, sebagaimana ungkapan Jalaluddin Rakhmat (1994), emosi memberikan bumbu kepada kehidupan , tanpa emosi hidup ini kering dan gersang.

Memang, semua orang memiliki jenis perasaan yang sangat serupa, namun intensitasnya berbeda-beda. Emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yangn membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menjadi modal untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan hidup.

Semua emosi pada dasarnya melibatkan berbagai perubahan tubuh yang tampak dan tersembunyi, baik yang diketahui atau tidak, seperti perubahan dalam pencernaan, denyut jantung, tekanan darah, jumlah hemoglobin, sekresi adrenalin, jumlah dan jenis hormon, malu, sesak nafas, gemetar, pucat, pingsan, menangis,dan rasa mual.

 

B. BENTUK-BENTUK  EMOSI

Dari hasil penelitiannya, John B. Watson (dalam Mahmud, 1990), tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat macam yaitu :

  1. marah, orang bergerak menentang sumber frustasi
  2. takut, bergerak meninggalkan sumber frustasi
  3. cinta, orang bergerak menuju sumber kesenangan
  4. depresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Daniel Goleman (1995) mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, sebagi berikut :

1. amarah         : meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggumg, bermusuhan,  tindak kekerasan dan kebencian patologis

2. kesedihan    : meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.

3. rasa takut     : meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, panik.

4. kenikmatan  : meliputi bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali dan mania.

5. cinta                        : meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih sayang.

6. terkejut        : meliputi terkesiap, takjub dan terpana.

7. jengkel         : meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka.

8. malu                        : meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, hati hancur.

Berdasarkan temuan penelitian  Paul Ekman dari University of California di San Fransisco ( Goleman, 1995) ternyata ada bahasa emosi yang dikenal oleh bangsa-bangsa di seluruh dumia, yaitu emosi yang diwujudkan dalam bentuk ekspresi wajah yang didalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih dan senang. Ekspresi wajah seperti itu benar- benar dikenal oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia meskipun memiliki budaya yang berbeda-beda, bahkan termasuk bangsa-bangsa  yang buta huruf, tidak terpengaruh oleh film, dan siaran tv. Artinya ekspresi wajah sebagai representasi dari emosi itu memiliki universalitas tentang  perasaan emosi tersebut.

Sementara itu Crider dkk (1983) mengemukakan dua jenis emosi, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif misalnya gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negatif misalnya rasa benci, takut, marah, geram dan lain-lain.

Selanjutnya bila dilihat dari sebab dan reaksi yang ditimbulkannya, emosi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

  1. Emosi yang berkaitan dengan perasaan ( syaraf-syaraf jasmani) perasaan dingin, panas, hangat, sejuk, dan sebagainya disebabkan oleh cuaca, kondisi,  ruangan, dan tempat dimana individu berada.
  2. Emosi yang berkaitan dengan kondisi fisiologis, misalnya sakit, meriang dan sebagainya.
  3. Emosi yang berkaitan dengan kondisi psikologis, misalnya cinta, malu, sayang, benci dan sebagainya. Lebih banyak disebabkan faktor hubungan dengan orang lain.

 

C. KARAKTERISTIK EMOSI PADA MASA REMAJA

Hurlock, 1980 mengemukakan, remaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berada bila dibandingkan dengan masa kanak-kanak maupun dengan orang dewasa. Emosi remaja seringkali meluap-luap (tinggi), dan emosi negatif lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak muncul disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka, dan lingkungan yang menghalangi terpuaskannya kepuasan tersebut.

Menurut Luella Cole (1963) ada tiga jenis suasana emosi yang sangat menguasai remaja yaitu :

a. Emosi Marah

Emosi marah lebih mudah timbul dibandingkan emosi-emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Penyebab yang sering menimbulkan amarah pada remaja adalah kalau didepan teman sebaya mereka direndahkan, dipermalukan, dihina atau dipojokkan. Remaja yang matang menunjukkan cara marahnya tidak lagi dengan cara berkelahi secara fisik seperti sewaktu kanak-kanak, tetapi dengan cara menggerutu, mencacimaki, atau ungkapan-ungkapan verbal lainnya.

Memang kadang-kadang remaja melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan  emosi marah, walaupun mereka berusaha menekan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Sebenarnya remaja cenderung mengganti emosi kekanak-kanakan mereka dengan  cara yang lebih sopan yaitu diam, mogok kerja, pergi keluar rumah atau menggeluyur kemana-man atau latihan fisik yang keras sebagai pelarian emosi marah.

b . Emosi  takut

Emosi takut pada remaja banyak yang menyangkut hal-hal seperti takut ujian, takut sakit, kurang uang, kurang berprestasi tidak dapat atau kehilangan pekerjaan, keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak populer dimata lawan jenis, tidak mendapat teman akrab, memikirkan kelemahan diri sendir, merasa bodoh, kesepian, kehilangan pegangan agama, perubahan-perubahan fisik, pengalaman seksual masturbasi, selalu berkhayal, menemui  kegagalan sekolah maupun karier, berbeda dari orang lain terutama dengan teman sebaya, takut diejek dan lain sebagainya ( Luella Colle, 1963, Dusek,JB, 1970, Medinnus,G.R, Johson, R.C, 1970)

Menurut Luella Colle ketakutan  yang banyak dialami remaja dapat dikelompokkan menjadi :

  1. ketakutan terhadap masalah sikap orangtua yang tidak adil dan   cenderung menolak dalam keluarganya
  2. ketakutan terhadap masalah mendapatkan status baik dalam kelompok
  3. sebaya maupun dalam keluarga
  4. ketakutan terhadap masalah pemilihan jabatan yang benar-benar sesuai
  5. dengan kemapuan dan keinginan
  6. ketakutan terhadap masalah seks
  7. ketakutan terhadap masalah yang menyangkut ancaman terhadap keberadaan dirinya.

Pada saat mengakhiri masa remaja akan memasuki perkembangan dewasa awal ketakutan atau kecemasan baru muncul yaitu ketakuktan atau ketentuan terhadap masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian politik, kepercayaan atau agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang berusaha untuk mengatasi masalah yang menimbulkan rasa takutnya.

C . Emosi Cinta

Emosi cinta telah ada sejak masa bayi dan terus menerus berkembang. Perkembangan yang normal mengenai  emosi cinta adalah sebagai berikut :

  1. objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang sejenis atau berbeda jenis : bayi
  2. kemudian teman sebaya yang sama jenis : pra remaja
  3. menjadikan teman sebaya sebagai objek cinta : remaja

M. Ali dan M. Asrori (2004) mengelompokkan karakteristik emosi remaja berdasarkan periode perkembangan, yaitu ;

  1. Periode praremaja : mudah tersinggung, cengeng, cepat merasa senang bahkan meledak-ledak
  2. Periode remaja awal : cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar.
  3. Periode remaja tengah : tuntutan peningkatan tanggung jawab mulai datang dari orangtua, anggota keluarga dan masyarakat. Sering terjadi kontradiksi antara nilai-nilai yang ada di masyarakat, sehingga remaja mulai meragukan apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja sering ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri.
  4. Periode remaja akhir : mulai memandang diri sebagai orang dewasa dan mampu menunjukkan pemikiran, sikap dan perilaku yang makin matang. Oleh sebab itu, orangtua dan masyarakat memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka.

 

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA

Sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah ;

1. Perubahan jasmani

Ketidakseimbangan pertumbhan fisik sering menimbulkan akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuhnya. Seperti menjadi kasar dan penuh jerawat.

2. Perubahan pola interaksi dengan orangtua

Cara memberikan hukuman dengan dipukul; pada masa remaja akan menimbulkan ketegangan yang lebih berat. Pemberontakan terhadap orangtua  menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orangtua. Maka, pola asuh  yang penuh dengan cinta kasihlah yang diperlukan.

3. Perubahan interaksi dengan teman sebaya

Cara khas remaja dalam membangun  interaksi dengan teman sebaya adalah dengan cara berkumpul untuk aktivitas bersama seperti membentuk geng. Ini biasanya terjadi pada masa remaja awal, namun ika sudah memasuki masa remaja tengah dan akhir sebaiknya pembentukan geng dihindarkan karena bisa menimbulkan kejahatan atau penguatan yang tidak baik. Pada masa ini yang menimbulkan masalah emosi adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Sehingga sagat dibutuhkan bimbingan dari orangtua atau oarang yang lebih dewasa.

4. Perubahan pandangan luar

Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang dianggap  sudah dewasa dewasa, sering masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja.

Masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat prediket populer dan mendatangkan kebanggaan. Sementara remaja perempuan sebaliknya. Penerapan nilai ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja bertingkah laku emosional

Kekosongan remaja sering dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab dengan melibatkan remaja kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak diri dan melanggar nilai-nilai moral seperti penyalahgunaan narkoba, minum-minuman keras, kriminal dan lain-lain

Perubahan interaksi dengan sekolah

Guru  sering memberikan ancaman-ancaman tertentu yang dapat menambah permusuhan, atas stimulus negatif bagi perkembangan emosi anak. Remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima. Timbullah idealisme untuk mengubah lingkungan. Idealisme ini tentunya tidak boleh diremehkan, sebab idealisme yang dikecewakan akan berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif.

Emosi negatif mudah muncul dalam diri remaja, menurut Hurlock (1980) dan Luella Cole (1963) karena :

  1. orangtua atau guru memperlakukan mereka sebagai anak kecil yang menimbulkan harga diri mereka dilecehkan
  2. apabila drintangi membina keakraban denga  lawan jenis
  3. terlalu banyak dirintangi daripada disokong
  4. merasa disikapi secara tidak adil oleh orangtua
  5. merasa kebutuhan tidak dipenuhi orang tua, padahal orangtua mampu melakukannya
  6. merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut patuh, banyak dicela, dihukum dan dihina

Remaja biasanya juga mengalami gangguan emosi yang menyebabkan mereka bertingkah laku nakal. Mereka merasa tidak puas, benci terhadap diri sendiri, dan tidak bahagia. Adapun gangguan emosi yang mereka alami antara lain adalah ;

  1. merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka seara layak, sehingga timbul ketidakpuasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami.
  2. Mersa dibenci, disia-siakan, tidak dimengerti dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orangtua mereka
  3. Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina, serta dipatahkan.
  4. Merasa tidak mampu atau bodoh. Mungkin karena tidak mengenal potensi atau karena khalayan mereka semata.
  5. Merasa tidak menyenangi kehidupan keluarga mereka yang tidk harmonis seperti sering bertengkar, kasar pemarah, cerewet atau bercerai.
  6. Merasa menderita karena iri terhadap saudara, karena disikapi dan      dibedakan secara tidak adil.

Emosi-emosi negatif tersebut akan berakibat terjadinya gangguan-gangguan terjadinya gangguan emosi, gejala-gejala gangguan emosi tersebut antara lain :

  1. depresi atau sedih yang mendalam
  2. mudah pingsan karena terlalu sensitif dan perasa
  3. mudah tersinggung dan sensitif serta perasa
  4. sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan
  5. sering ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu karena terlalu banyak pertimbangan yang kadang-kadang tidak rasional.

E. CIRI-CIRI KEMATANGAN EMOSI

Remaja yang sudah mencapai kematangan emosi dapat dilihat dari ciri-ciri tingkah lakunya sebagai berikut :

  1. mandiri dalam arti emosional : bertanggung jawab atas masalahnya sendiri dan bertanggung jawab atas oranglain.
  2. mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
  3. mampu menampilkan ekspresi emosi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada
  4. mampu mengendalikan emosi-emosi negatif, sehingga pemunculannya tidak impulsive

Remaja yang tidak matang emosinya dapat dilihat dari tingkah laku  :

  1. cenderung melihat sisi negatif dari orang lain
  2. impulsive ; kurang mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
  3. kurang mampu memahami oranglain dan  cenderung untuk selalu minta dipahami oranglain
  4. tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat

 

F. UPAYA MENGEMBANGKAN EMOSI REMAJA DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN

Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak memnimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredam emosi adalah :

  1. berfikir positif
  2. mencoba belajar memahami karakteristik orang lain
  3. mencoba menghargai pendapat dan kelebihan oranglain
  4. introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya
  5. bersabar dan menjadi pemaaf
  6. alih perhatian, ayitu mencoba mengalihkan perhatian pada objek lain dari objek yang pada mulanya memicu pemunculan emosi negatif

Mengendalikan emosi itu penting. Hal ni  didasarkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan diri pada orang lain. Orang-orang yang dijumpai dirumah atau dikampus akan lebih cepat menanggapi emosi daripada kata-kata. Kalau seseorang sampai dirumah dengan wajah murung, bahkan terkesan cemberut dan marah-marah, emosi anggota keluarga yang lain akan bereaksi terhadap emosi tersebut, sehingga mereka merasa tidak enak atau merasa bersalah dan lain sebagainya.

Beberapa cara untuk mengendalikan emosi menurut Mahmud, 1990 :

  1. hadapilah emosi tersebut
  2. jika mungkin, tafsirkan kembali situasinya. Artinya melihat situasi sulit yang dialami dari sudut pandang yang berbeda
  3. kembangkan asa humor dan sikapa realistis
  4. atasi secara lansung problem-problem yang menjadi sumber emosi

Cara lainnya adalah dengan mengekspresikan emosi. Wullur (1970 :16) melukiskan ekspresi sebagai pernyataan batin seseorang dengan cara berkata, bernyanyi, bergerak dengan catatan bahwa ekspresi itu selalu tumbuh karena dorongan akan menjamakan perasaan atau buah pikiran.

Selanjutnya, ekspresi itu dapat mengembangkan sifat kreativitas seseorang. Selain itu ekspresi juga bersifat membersihkan, membereskan (katarsis. Karena itu, ekspresi dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan.

Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan emosi, salah satunya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T Grant Consertium tentang “Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan” yaitu sebagai berikut :

Pengembangan Keterampilan Emosional

  1. mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan
  2. mengungkapkan perasaan
  3. menilai intensitas perasaan
  4. mengelola perasaan
  5. menunda pemuasan
  6. mengendalikan dorongan hati
  7. mengurangi stres
  8. memahami perbedaan anatara perasaan dan tindakan

Pengembangan Keterampilan Kognitif

  1. belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri
  2. belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial
  3. belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan pengambilan keputusan
  4. belajar memahami sudut pandang oranglain (empati)
  5. belajar memahami sopan santun
  6. belajar bersikap positif terhadap kehidupan
  7. belajar mengembangkan kesadaran diri

Pengembangan  Keterampilan Perilaku

  1. mempelajari keterampilan komunikasi non verbal,misal melalui pandangan mata,ekspresi wajah, gerak-gerik, posisi tubuh dan lain-lain
  2. mempelajari keterampilan komunikasi verbal, misal mengajukan permintaan dengan jelas, mendiskripsikan sesuatu kepada oranglain dengan jelas, menanggapi kritik secara efektif

Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosi adalah dengan self-science curriculum ( Daniel Goleman , 1995)

  1. belajar mengembangkan kesadaran diri
  2. belajar mengambil keputusan pribadi
  3. belajar mengelola perasaan
  4. belajar menangani stres
  5. belajar berempati
  6. belajar berkomunikasi
  7. belajar membuka diri
  8. belajar menegembangkan pemahaman
  9. belajar menerima diri sendiri
  10. belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
  11. belajar mengembangkan ketegasan
  12. belajar dinamika kelompok
  13. belajar menyelesaikan konflik

Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang, disikapi oleh orang tua maupun guru dengan cara :

  1. orangtua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak  (significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak
  2. adanya program latihan beremosi baik ssssssdisekolah maupun didalam keluarga, misalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak sejalan sebagaimana mestinya
  3. mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan  emosi negatif dan upaya-upaya menanggapinya secara lebih baik

 

KESIMPULAN

Emosi merupakan reaksi psikologis yang nampak dari reaksi fisik seperti detak jantung lebih cepat, muka merah atau pucat, otot memegang dan sebagainya. Tingkah laku  emosi misalnya riang atau bahagia, marah, takut, sedih dan sebagainya. Jadi, emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Emosi itu ada dua jenis, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif merupakan reaksi psikologis sebagai tanda adanya kepuasan terhadap berbagai keputusan yang dirasakan remaja, dan emosi negatif diakibatkan ketidakpuasan terhadap berbagai kebutuhan itu.

Emosi yang paling sering dirasakan remaja adalah emosi marah, takut, cemas, kecewa dan cinta. Gangguan emosi yang dialami remaja dapat menjadi sumber tingkah laku nakal.

Oleh karena itu  hal-hal yang menyebabkan emosi remaja terganggu perlu dihindari. Cara yang sangat penting untuk menghindari gangguan emosi pada remaja yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis. Yaitu kebutuhan makan, pakaian dan bergerak, kebutuhan mendapatkan status, kebutuhan untuk diakrabi, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk mandiri dan kebutuhan memiliki filsafat hidup.

SARAN

Usaha untuk mengembangkan emosi remaja :

  1. Adanya model dari orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam melahirkan emosi-emosi negatif
  2. Adanya latihan beremosi secara terprogram di keluarga dan di sekolah
  3. Mempelajari secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan emosi negatif remaja muncul dan menghindari kondisi-kondisi itu
  4. Membantu remaja mengatasi berbagai masalah pribadinya dengan mendorongnya membicarakan masalah pribadi itu kepada orang-orang yang dipercayainya
  5. Melatih dan menyibukkan remaja dengan berbagai kegiatan fisik sehingga menguras energi yang banyak agar gejolak emosi tersalurkan
  6. Menciptakan berbagai kesempatan yang memungkinkan remaja berprestasi dan mendapatkan harga diri

 

REFERENSI

Sarwono, Sarlito Wirawan, 2000. Psikologi Remaja. Jakarta

Elida  Prayitno, Erlamsyah, 2002. Buku Ajar Psikologi Perkembangan Remaja. Padang : Jurusan Bimbingan dan Konseling. FIP. UNP

M. Ali, M.Asrori, 2004. Psikologi Remaja. PPD. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Tim Pembina Mata Kuliah PPD, 2002. Perkembangan Peserta Didik. Padang : Proyek Pembinaan Tenaga kependidikan Pendidikan Tinggi Dirjen Dikti

Walgito, Bimo, 1981. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi. UGM

About forumsejawat

http://id-id.facebook.com/baitur.r.isman

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: