//
you're reading...
Manajemen Pendidikan, Pendidikan, Teknologi Pendidikan

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan (1)

Pengembangan Tenaga Pengajar

Istilah pengembangan tenaga dosen (faculty development) menunjukkan usaha yang luas dalam meningkatkan pembelajaran dan kinerja diperguruan tinggi. Menurut Gaff (1975 : 10), dalam Miarso (2004 : 512) ada dua usaha lain yang saling berkaitan dalam pengembangan tenaga dosen, yaitu pengembangan instruksional (instructional development), dan pengembangan organisasi.

Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Gaaf diatas, Bergquist dan Phillips (1977) berpendapat bahwa pengembangan tenaga dosen merupakan bagian inti dari pengembangan kelembagaan (institutional development), dan meliputi sebagian dari pengembangan personal, pengembangan profesional, pengembangan organisasi, dan pengembangan masyarakat.

Bagian terpenting dari pengembangan profesionl adalah pengembangan instruksional. Sementara Miarso (200 : 512) cenderung untuk menambahkan pengembangan saran, pengembangan karier sebagai bagian dari pengembangan organisasi, dan pengembangan kesejahteraan sebagai bagian penting dari pengembangan personal.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas, maka pengembangan tenaga dosen dapat didefenisiskan sebagai suatu usaha terintegrasi dan terorganisasikan untuk membantu dosen memperoleh kesejahteraan, pengetahuan, keterampilan, keselarasan, dan kepekaan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penelitian. Usaha ini mengandung pengertian yang komprehensif, karena tujuan yang paling utama adalah meningkatkan belajar mahasiswa, sehingga mereka mampu melaksanakan tugas pembangunan dimasa depan.

Gaff, dalam Miarso (ibid : 514) merumuskan 17 asumsi yang merupakan dasar pertimbangan diselenggarakannya program pengembangan tenaga dosen, sebagai berikut:

  1. Tenaga pengajar merupakan sember pendidikan paling penting dari perguruan tinggi.
  2. Mengajar merupakan tugas profesional utama bagi setiap tenaga pengajar, meskipun bukan merupakan satu-satunya tugas.
  3. Kualitas keilmuan dan penelitian, yang juga merupakan kegiatan profesional banyak tenaga pengajar, tidak perlu dipertentangkan dengan pengajar yang efektif.
  4. Mengajar telah banyak terabaikan dalam tradisi akademik.
  5. Kualitas belajar dan mengajar masih perlu ditingkatkan.
  6. Memperbaiki pengajaran memerlukan kerja sama antara pengelola dan mahasiswa, mungkin bahkan dengan anggota masyarakat, serta sesama sejawat.
  7. Dosen memperoleh persiapan yang sangat sedikit untuk melaksanakan peranan instruksional, sedang pengelola hanya mendapat latihan sedikit tentang kepeminpinan, perumusan kebijakan, serta peranan manajerial untuk melaksanakan tugasnya.
  8. Mengajar merupakan serangkaian sikap, pengetahuan, keterampilan, motivasi, dan nilai yang kompleks. Perbaikan kegiatan mengajar dan belajar harus memperhitungkan kerumitan yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan lembaga. Sehingga oleh karena itu harus dihindari usaha penyelesaian secara sederhana.
  9. Pengajaran yang efektif meliputi bagaimana membantu mahasiswa untuk mencapai tujuan belajar.
  10. Tidak ada satu model tunggal untuk belajar –mengajar yang efektif.
  11. Karakteristik mahasiswa sangat beragam. Gaya belajar mereka yang berbeda karena kemampuanya, minatnya, latar belakang pendidikanya, aspirasi masa depannya dan orentasi perorangnnya, perlu ditanggapi dengan memberikan pengalaman belajar yang berbeda.
  12. Karakteristik mahasiswa dan latar belakang dosen pun sangat beragam.
  13. Pelaksanaan tugas profesional seseorang terkait erat dengan kehidupan pribadinya.
  14. Usaha seseorang untuk mengusahakan perbaikan lebih didasarkan pada dorongan intristik dari pada ekstrinsik.
  15. Dosen dan angota civitas lain akan bersedia melibatkan diri dalam berbagai program, dan menganggapnya sebagai suatu kebutuhan, bilamana usaha perbaikan dijadikan suatu usaha yang berkelanjutan.
  16. Setiap lembaga mempunyai sumber yang dapat dihimpun untuk program perbikan pengajaran.
  17. Kegiatan belajar dan mengajar bersifaat individual, tetapi tidak terisolasikan; ia berlangsung dalam konteks sosial. Corak belajar dan mengajar dipengaruhi oleh iklim kelembagaan, hubungan antara para dosen, mahasiswa dan administrator, serta kebijakan dan praktik dalam lembaga yang bersangkutan.

Bertolak dari asumsi tersebut dapat dirumuskan berbagai usaha dalam pengembangan tenaga pengajar. Eble dn McKeachie dalam Miarso (ibid : 515) mengidentifikasi delapan fokus dalam usaha pengembangan tenaga pengajar yang perlu dilakukan, yaitu :

  1. Pengembangan profesional, yang berupa peningkatan kompetensi pengajaran dan produktivitas penelitian.
  2. Pengembangan keterampilan tambahan dalam mengajar, termasuk perencanaan dan pengelolan perkuliahan, pengunaan berbagai macam metode dan sarana pembelajaran, penilaian, serta keterampilan khusus pengajaran dalam disiplin yang bersangkutan.
  3. Pemahaman yang lebih baik terhadap mahasiswa.
  4. Peningkatan keterampilan hubungan antara pribadi dengan mahasiswa.
  5. Pertumbuhan dalam jabatan.
  6. Peningatan motivsi dan kegairahan, atau peningkatan kepuasan intristik.
  7. Peningkatan kesempatan untuk belajar satu sama lain.
  8. Peningkatan komunikasi antar sejawat.

Kedelapan kemungkinan fokus program di atas sebenarnya saling berkaitan dan sebaiknya dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Tentu saja hal itu tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Program Pengembangan Tenaga Pengajar
Secara garis besar dapat didefenisikan sembilan macam program yang dilakukan untuk pengembangan tenaga pengajar, yaitu :
a. Program Pengembangan untuk Staf Pengajar Baru.
Pengembangan staf pengajar baru ini, pada dasarnya telah dilakukan bagi staf pengajar yang melalui kegiatan assistensi terlebih dahulu. Namun dapat dilakukan dalam bentuk : (1) orientasi, yang lebih ditujukan pada penyesuian iklim lembaga, dan (2) magang (Internship), yang telah difokuskan bagi aspek keterampilan dan kompetensi staf pengajar baru tersebut.

b. Program Pengembangan untuk Staf Pengajar.
Program pengembangan Staf Pengajar dapat dilakukan melalui : (1) evaluasi kinerja pengajaran; (2) pendidikan bergelar pada tingkat Pascasarjana, Magister, dan Doktor; (3) lokakarya dan seminar dalam dan diluar kampus; dan (4) penelitian masalah belajar mengajar.

c. Program Pengembangan untuk Staf Pengajar Lama.
Program pengembangan ini dapat diberikan melalui : (1) pemberian penghargaan (rewards) atas pengabdiannya bagi Perguruan Tinggi terkait; (2) program intensif berupa evaluasi, penelitian dan pengembangan dalam upaya peningkatan mutu internal kelembagaan; (3) program karya tulis dalam merangkum berbagai konsep yang selama ini dipelajari, diusulkannya dalam melahirkan karya-karya berdasarkan evaluasi dan pengalaman dosen tersebut; dan (4) program bimbingan bagi dosen-dosen muda.

Eble dan McKeachi dalam Miarso (ibid : 523) mengajukan sejumlah persyaratan untuk keberhasilan program pembinaan dosen. Beberapa di antara persyaratan yang terpenting adalah :

  1. Direncanakan secara teliti dan lengkap.
  2. Ditawarkan beberapa kesempatan yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan dosen (kesempatan ini seyogyanya jangan terlalu bayak dan tidak pula terbatas).
  3. Dikelola secara efektif, baik dari segi akademik maupun administratif.
  4. Dilibatkan sejumlah tenaga akademik yang berkemampuan dalam merencanakan dan mengelola kegiatan.
  5. Tidak diselenggarakan dengan “ancaman” ataupun menggoyahkan kedudukan dosen.
  6. Hasilnya dapat dilihat dan dirasakan bukan hanya oleh dosen peserta, namun juga untuk jurusan/ fakultas serta mahasiswa.
  7. Terciptanya situasi dimana peserta memperoleh penghargaan dari rekan sejawat, dan bukannya ejekan.

Dengan diberikannya sejumlah otonomi kepada Perguruan Tinggi seyogyanya program pembinaan dosen ini dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan sendiri, dan tidak sekedar menunggu instruksi ataupun mengharapkan proyek dari Pusat.

Sarana Pendukung
Namun usaha pengembangan tenaga pengajar tidak mungkin berjalan begitu saja tanpa adanya sarana pendukung untuk penyelenggaraan kegiatan itu. Sarana pendukung yang dimaksud adalah kondisi yang mendorong dan menarik untuk memprakarsai dan melaksanakan pembaruan suatu iklim yang menggairahkan mereka yang berkepentingan untuk bertindak. Prasarana pendukung ini dapat dibedakan dalam lima macam, yaitu :

a. Dukungan Moral dan Kebijakan.
Dukungan ini merupakan hal yang menentukan dalam meningkatkan aktivitas instruksional. Tanpa adanya perhatian yang besar dari pengelola tertinggi dalam suatu lembaga tentang pentingnya fungsi pengajaran, maka semanagat dan dedikasi para pengajar akan menyusut.

b. Dukungan Organisasi.
Dukungan moral perlu diterjemahkan dalam serangkaian tindakan. Untuk penterjemahan dan penyusunan rangkaian itulah diperlukan adanya dukungan organisasi. Pembaharuan kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang bersistem dan berkelanjutan, dengan sedikitnya sembilan macam kegiatan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu perlu ada suatu organisasi tetap yang melaksanakan fungsi pengelolaan dan pelaksanaanya. Misalnya di Universitas berlatar belakang IKIP dulunya telah ada organisasi yang disebut Pusat Sumber Belajar, di IPB ada Pusat Sumber Daya Informasi, di ITB ada Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan, di UNDIP ada Pusat Teknologi Pendidikan, di UNAIR semula ada PLSP (Pusat Latihan Staf Pengajar) yang telah banyak melakukan kegiatan penataran bahkan keluar kampus sendiri, dan sebagainya.

c. Dukungan Personel.
Adanya tenaga tetap yang berdedikasi serta mempunyai keahlian khusus merupakan prasyarat mutlak untuk berfungsinya suatu organisasi. Tenaga tim inti yang khusus dipersiapkan untuk menyelenggarkan program pengembangan instruksional, agar dapat berfungsi penuh untuk lembaganya (bukan jurusan atau fakultasnya saja). Mereka perlu diperkuat dengan sejumlah tenaga lain yang mempunyai keahlian khusus atau spesialis (misalnya ahli media, ahli evaluasi, ahli desain instruksional, ahli grafis, teknisi media dan lain-lain), dan terhimpun dalam suatu organisasi.

d. Dukungan Dana.
Penyediaan dana ini perlu sekali diperhatikan karena dalam jangka panjang akan menguntungkan, yaitu dengan tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam belajar dan mengajar.

e. Dukungan Fasilitas.
Fasilitas ini dapat berupa fisik maupun non fisik. Fasilitas fisik meliputi gedung, perabot, peralatan, media dan lain-lain yang diperlukan untuk tempat dan sarana melaksanakan kegiatan. Sedangkan fasilitas non fisik dapat berupa kemudahan dan kesempatan dalam melaksanakan atau mengikuti kegiatan.

About forumsejawat

http://id-id.facebook.com/baitur.r.isman

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: