//
you're reading...
Manajemen Pendidikan, Pendidikan, Teknologi Pendidikan

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2)

Pengembangan Kurikulum

    Kurikulum merupakan seperangkat rencana, berupa pengaturan isi dan bahan pelajaran serta  cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Orientasi yang diharapkan bagi perguruan tinggi dalam upaya penyiapan dan pengembangan tenaga guru hendaklah mengacu pada UU No. 14 Tahun 2005 dalam rangka menyiapkan tenaga pendidik profesional yang memiliki kualifikasi akademik, dan kompetensi (meliputi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional). Serta pengembangan tenaga pendidik melalui program sertifikasi.

    Sejalan dengan tuntutan kompetensi tersebut, maka empat kompetensi guru dapat dijabarkan sebagai berikut :

    a. Kompetensi Pedagogik, meliputi :

    • Memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, moral, kultural, emosional, dan intelektual;
    • Memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan budaya;
    • Mamahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didk;
    • Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik;
    • Menguasai teori dan prinsip beljar serta pembelajaran yang mendidik;
    • Mengembangakan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didk dalam pembelajaran;
    • Merancang pembelajaran yang mendidik;
    • Melaksanakan pembelajaran yang mendidk;
    • Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.

    b. Kompetensi Kepribadian

    • Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan wibawa;
    • Mmenampilkan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan sebagai teladan bagi peserta didk dan masyarakat;
    • Mengevaluasi kinerja sendiri;
    • Mengembangkan diri secara berkelanjutan.

    c. Kompetensi Sosial

    • Berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didk, orang tua peserta didik, sesama pendidik, tenaga pendidikan dan masyarakat;
    • berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan mastarakat;
    • Berkontribusi terhadap pengembnagan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional, dan global;
    • Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

    d. Kompetensi profesional

    • menguasai substansi bidang studi dan metodologi keilmuannya;
    • menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi;
    • menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran;
    • mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi;
    • meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

    Pengembangan kompetensi dilakukan melalui model pendidkan pendidik, meliputi : (1) model terintegrasi (concurrent model), dimana sejak awal perkuliahan mahasiswa sudah dididik untuk menjadi pendidik; dan (2) model terpisah (consequtive model), berupa pendidikan pendidik yang diberikan setelah seseorang memiliki kesarjanaan bidang studi.

    Kurikulum pendidikan pendidik, dilaksanakan melalui : (1) mata kuliah yang membina kepribadian; (2) mata kuliah yang membina keahlian dan keterampilan; (3) mata kuliah yang membina keahlian berkarya; (4) mata kuliah yang membina perilaku berkarya; dan (5) mata kuliah yang membina hidup bermasyarakat.

    Sejalan dengan hal tersebut maka, bagi program sertifikasi dapat dirumuskan beberapa struktur kurikulum pendidikan sertifikasi, meliputi mata kuliah : (1) landasan pendidikan; (2) belajar dan pembelajaran; (3) perkembangan peserta didik; (4) perencanaan pembelajaran; (5) evaluasi pembelajaran; (6) media pembelajaran; (7) bimbingan dan konseling; (8) komunikasi pendidikan; (9) profsi keguruan; (10) penelitian tindakan kelas; (11) telaah kurikulum; dan (12) program pengalaman lapangan (PPL).

     

    Implementasi Kurikulum berdasarkan Filsafat Konstruktivisme

    Terkait dengan peran dosen dalam meningkatkan kualitas calon tenaga pendidik, dalam hal ini sebagai calon seorang guru Northfield, Gunstone, dan Ericson (1996) dalam Suparno (2006 : 76) memberikan catatan mengenai persiapan persiapan pendidikan guru, calon pengajar selaras dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Pendidikan guru  harus mengadakan pembaharuan dengan mengevaluasi konsep-konsep yang ada sampai sekarang : apakah sudah sesuai dengan prinsip konstruktivisme. Terutama para pengajar di institusi pendidikan guru perlu menyesuaikan konsep, sikap, dan fungsinya terhadap calon-calon guru menurut prinsip konstruktivisme. Ini berarti bahwa tekanan pendidikan calon guru harus terletak pada keaktifan para calon guru dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka. Para pengajar perlu memberikan kesempatan kepada calon-calon guru untuk berperan aktif dalam penemuan dan pengembangan pikiran mereka.

    Dengan demikian calon-calon gru perlu dibimbing untuk aktif menekuni pengetahuan mereka, aktif mencari makna dari yang mereka pelajari, dan belajar terus-menerus. Sistem pengajaran yang menekankan mahasiswa pasif dan dosen aktif atau sistem pengerdilan bahan yang tidak memungkinkan mahasiswa berfikir tentang hal itu sangat bertentangan dengan prinsip konstruktivisme. Sistem pendidikan guru seperti itu hanya akan menghasilkan guru-guru yang memasifkan murid dan mematikan kreativitas murid. Guru-guru yang dihasilkan adalah guru-guru yang juga tidak kreatif dan tidak dapat mengerti dan memahami kreativitas murid.

    Untuk membantu karier pendidik para calon guru di institusi pendidikan guru, perlu memperhatikan hal-hal berikut :

    1. Belajar bagaimana mengajar secara konstruktivis. Ini berarti mereka harus mengerti makna belajar dan mengajar secara konstruktivis.
    2. Mendalami bahan dan ilmunya secara mendalam dan luas. Karena mereka harus dapat memahami macam-macam interpretasi murid dalam membentuk pengetahuannya akan suatu hal. Kepicikan dan kurangnya penguasaan atas ilmu, akan membuat guru cenderung main “diktator” sehingga akan sulit membantu murid yang mengalami kesulitan dalam menangkap pengetahuannya.
    3. Belajar tentang diri mereka sendiri sebagai jembatan untuk terjun menjadi guru (Northfield dkk., 1996). Mereka perlu belajar tentang fungsi, tugas, dan profesi sebagai guru, juga perlu mengerti kelebihan dn kelemahan dirinya sendiri dalam kaitannya berprofesi sebagai guru.
    4. Dipupuknya interaksi calon-calon guru dengan para dosen mereka serta dengan kelompok guru yang sedang aktif di lapangan. Interaksi tersebut akan membuat mereka lebih mantap tentang karir yang akan dijalani. Mereka juga dapat belajar dari pengalaman guru-guru yang sedang bergulat di lapangan sehingga bermanfaat untuk memperkembangkan pengetahuan mereka.

    About forumsejawat

    http://id-id.facebook.com/baitur.r.isman

    Diskusi

    Belum ada komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: